FAKTOR CUACA : Persediaan CPO Memuncak

07/08/2017 10:47:53

Bisnis.com, JAKARTA — Persediaan minyak kelapa sawit di Malaysia diperkirakan melonjak ke level tertinggi 2017 pada bulan lalu menjadi 1,63 juta ton. Pemulihan produksi akibat membaiknya cuaca diperkirakan menjadi faktor pendorong utama kenaikan stok.n

Pada penutupan perdagangan Jumat (4/8), harga CPO di bursa Malaysia kontrak teraktif Oktober 2017 naik 2 poin atau 0,08% menuju 2.606 ringgit (US$609,21) per ton. Sepanjang tahun berjalan harga terkoreksi 19,52%.

Berdasarkan median survei Bloomberg yang melibatkan 10 responden termasuk pekebun, pedagang, dan analis, stok CPO Malaysia pada Juli 2017 mencapai 1,63 juta ton, naik 6,5% month to month (mtm) dari bulan sebelumnya sebesar 1,53 juta ton.

Bila level tersebut benar terealisasi, tingkat persediaan mencatatkan level tertinggi sepanjang 2017. Selain itu, kenaikan stok secara bulanan sebesar 6,5% menjadi pertumbuhan tertinggi sejak Juni 2016.

Sementara itu, volume produksi CPO pada Juli 2017 diperkirakan melonjak 13,2% mtm menjadi 1,71 juta ton dari sebelumnya 1,51 juta ton. Ini menjadi level tertinggi sejak September 2016.

Kenaikan pasokan untungnya sejalan dengan peningkatan permintaan ekspor. Volume pengapalan CPO ke luar negeri pada bulan lalu diperkirakan mencapai 1,45 juta ton, naik 5,1% mtm dari sebelumnya 1,38 juta ton. Malaysian Palm Oil Board (MPOB) akan mengeluarkan data resmi kinerja CPO Negeri Jiran pada Kamis (10/8).

Futures Broker Dealing CIMB Futures Sdn., Chandran Sinnasamy menuturkan, kendati menunjukkan pemulihan produksi, stok CPO bulanan Malaysia masih di bawah level 2 juta ton. Kondisi ini sudah diprediksi pasar, sehingga harga berada di dalam rentang 2.400 ringgit—2.700 ringgit per ton dalam beberapa bulan terakhir.

“Stok minyak sawit saat ini masih terbilang netral. Pasar sedang menunggu apakan ada kenaikan stok di atas level 2 juta ton yang menunjukkan pemulihan produksi,” ujarnya seperti dikutip dari Bloomberg, Jumat (4/8).

Menurutnya, sentimen yang menjadi fokus utama pasar CPO ialah pemulihan produksi di Indonesia dan Malaysia setelah sebelumnya mengalami hambatan akibat El Nino. Perbaikan panen perkebunan diperkirakan berlangsung mulai paruh kedua 2017.

Namun demikian, sejumlah pihak masih berbeda pandangan mengenai kapan puncak produksi CPO akan terjadi. Kemungkinan besar hal itu akan berlangsung pada Oktober 2017.

“Produksi diperkirakan meningkat antara Agustus—Oktober, dan puncaknya pada Oktober—November. Namun ada juga yang memperkirakan pucak [produksi CPO] terjadi pada September—Oktober,” paparnya.

BMI Research dalam laporannya menuliskan, pemulihan hasil panen minyak sawit akan berlangsung dalam beberapa bulan mendatang, sehingga harga CPO cenderung tertekan. Rerata harga CPO pada 2017 diperkirakan turun menjadi 2.600 ringgit per ton dari 2.630 ringgit per ton pada 2016.

Analis MIDF Amanah Investment Bank Bhd. Alan Lim menyampaikan, persediaan CPO Malaysia pada Juli 2017 naik menjadi 1,65 juta ton. Faktor yang mendorong ialah penambahan produksi yang melampaui pertumbuhan ekspor.

Dalam jangka panjang, Indonesia dan Malaysia akan mengalami peningkatan produksi CPO. Tahun ini, volume pasokan CPO baru di Indonesia tumbuh 11,2% year on year (yoy) menjadi 35,71 juta ton

Adapun di Malaysia, produksi CPO 2017 naik 13,2% yoy menjadi 19,60 juta ton. Lim menuturkan, pertumbuhan pasokan CPO Indonesia cenderung relatif lebih kecil secara tahunan dibandingkan Malaysia, karena pemulihan suplainya sudah dimulai pada kuartal IV/2016—kuartal II/2017.

Kendati pasokan CPO pulih pada paruh kedua 2017, MIDF meyakini harga masih akan bergerak di atas level support kuat 2.500 ringgit per ton. Perusahaan pun mempertahankan proyeksi rerata harga CPO pada Tahun Ayam Api di posisi 2.750 ringgit per ton.

Selain faktor fundamental, sentimen lain yang memengaruhi harga CPO ialah komoditas minyak kedelai. Menurut Lim, jika kekeringan di Amerika Serikat berlangsung hingga Agustus 2017, suplai kedelai akan merosot dan melonjakkan harga.

“Jika ada lonjakkan terhadap harga minyak kedelai, harga CPO berpeluang kembali mencapai level 3.000 ringgit per ton,” ujarnya. (Bloomberg)

Tag : cpo, harga cpo

Editor : Riendy Astria

Sumber:http://kalimantan.bisnis.com/read/20170805/445/678202/faktor-cuaca-persediaan-cpo-memuncak-